Kulon Progo- Kapolres Kulon Progo AKBP Ridho Hidayat, S.I.K., M.H. menghadiri kegiatan Ritual Kirab dan Jamasan Pusaka dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang digelar di kawasan Sendang Kawidodaren, Padukuhan Keceme, Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh, Selasa (16/6/2026).
Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Perbukitan Menoreh yang dipusatkan di kawasan Puncak Suroloyo. Kegiatan tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat sekaligus upaya pelestarian adat dan budaya Jawa yang masih terjaga hingga saat ini.
Juru Kunci Suroloyo, Ki Surakso Kemat, menjelaskan bahwa tradisi kirab dan jamasan berawal dari dititipkannya dua pusaka Keraton Ngayogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1986. Kedua pusaka tersebut adalah Tombak Kyai Manggala Murti dan Songsong Kyai Makuta Dewa.
"Sejak kedua pusaka dititipkan di Suroloyo, masyarakat secara rutin menggelar tradisi jamasan setiap malam dan pagi Satu Suro sebagai bentuk penghormatan sekaligus rasa syukur,"ungkapnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tirakatan dan doa bersama yang dilaksanakan oleh warga pada malam menjelang Satu Suro. Keesokan harinya, masyarakat bersama sesepuh adat menggelar kirab budaya yang mengarak kedua pusaka dari Gedung Pusaka menuju Sendang Kawidodaren.
Kirab berlangsung meriah dengan iring-iringan bregada, para pemangku adat, serta gunungan hasil bumi yang berisi sayuran, buah-buahan, bunga, dan aneka jajanan pasar. Ratusan warga Padukuhan Keceme turut ambil bagian dengan mengenakan busana adat Jawa.
Sebelum tiba di lokasi jamasan, prosesi sempat dihentikan untuk pelaksanaan upacara adat Lung Tinampen Pusaka, yaitu pemeriksaan simbolis terhadap kedua pusaka peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Setibanya di Sendang Kawidodaren, dilaksanakan prosesi inti berupa jamasan atau pembersihan pusaka menggunakan air sendang yang dianggap memiliki nilai spiritual. Pusaka Tombak Kyai Manggala Murti dan Songsong Kyai Makuta Dewa dibersihkan dengan air sendang serta digosok menggunakan jeruk nipis untuk menjaga keawetan dan mencegah karat.
Kapolres Kulon Progo AKBP Ridho Hidayat menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat yang terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya warisan leluhur. Menurutnya, kegiatan budaya seperti ini tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
"Polri mendukung kegiatan-kegiatan budaya yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat. Tradisi kirab dan jamasan ini merupakan warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan sebagai identitas bangsa sekaligus sarana memperkuat persatuan dan kebersamaan masyarakat," ujar Kapolres.
Usai prosesi jamasan, kegiatan dilanjutkan dengan rayahan gunungan hasil bumi yang menjadi momen yang paling dinantikan masyarakat dan pengunjung. Gunungan yang berisi hasil pertanian, kopi, teh, buah-buahan, serta jajanan pasar diperebutkan warga karena dipercaya membawa berkah dan keberuntungan.
Tradisi Kirab dan Jamasan Pusaka di Puncak Suroloyo menjadi salah satu agenda budaya tahunan yang tidak hanya memiliki nilai spiritual dan historis, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu mempererat hubungan masyarakat dengan warisan leluhur yang telah dijaga selama puluhan tahun

0 komentar:
Posting Komentar